Di sela rapat diknas, sabtu kemarin. Salah seorang pengawas tiba-tiba berbicara. Entah maksudnya mau apa.

‘Kalau saya tanya sama calon guru yang melamar, jawabannya beraneka ragam. Ada yang bilang mau jadi PNS. Apapun bolehlah! Ada yang bilang, gak dapet-dapet kerja. Ada yang bilang ingin membaktikan dirinya. Tapi (dia ketawa) kalau guru swasta sih jelas motivasinya uang..’

Saya menoleh ke arah Pak Stephen kepsek-sd-katolik-yang-bagus-itu. Dia hanya menyunggingkan senyum pahit di sudut bibir. Saya pun menghela nafas. Dan saya melihat, saat menghela nafas itu, giliran Pak Stephen yang melirik ke arah saya.

Saya paling sebalnya jika ngumpul bersama guru-guru negeri selalu saja begitu. Mereka selalu memandang iri dan beranggapan bahwa penghasilan guru swasta itu lebih tinggi. Mengherankan! Dari mana mereka berpikir seperti itu? Kalo soal fasilitas, mungkin di swasta lebih baik. Itupun swasta yang bagaimana dulu. Tapi fasilitas itu kan untuk anak. Untuk kepentingan mereka. Bukan untuk kita.

‘Pantes aja anak swasta lebih pinter lebih santun, gurunya kan gajinya gede. Jadi punya modal untuk ngasih reward anak-anak. Lah, kalo kita?’

‘Pantes aja guru swasta kreatif. Bisa menyelenggarakan pembelajaran PAIKEM. Lah modalnya ada..’

Oh, please.. Modal apa yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Tiada lain hanyalah kertas-kertas karton, dan sekilo semangat…

Beberapa saat kemudian, saya terlibat pembicaraan yang tau-tau mengarah ke kenaikan golongan.

Emang berapa lama guru PNS bisa naik golongan..?

’Nah, gak tentu juga. Kadang cepet. Kadang lama.. Kalau mau bayar, bisa 8 jutaan katanya, sih…’

Ooo...

’Emang, adek udah PNS?’

Saya ketawa. Saya katakan padanya bahwa saya guru swasta.

’Oh, kalau udah swasta sih udah tenang. Gajinya gede…’

Saya tersenyum. Sama aja, Bu..

’Sama gimana. Ya jelas gak sama, lah. Ibu muridnya anak-anak orang kaya. Pinter-pinter. Sopan-sopan. Cuma sedikit anaknya. Orangtuanya pinter. Gaji ibu gede. Kita udah muridnya ndablek, banyak, bodoh-bodoh…Ya, gak sama, dong… ‘

Mendadak saya sewot.

Pertama, kita gak pernah ngata-ngatain anak sendiri bodoh. Guru itu orangtua, loh. Dan perkataan orangtua ke anaknya itu doa. Kedua, guru negeri masuk jam 7 pulang jam 12. Kita masuk jam 7 pulang jam 4 sore. Ada gak ada pelajaran, tetap di sekolah.

‘Iya, tapikan gajinya gede..’

Ibu tau gak, gaji saya waktu pertama kali ngajar? 500 ribu. Itu bersih. Gak ada tambahan apa-apa. Kerja dari jam 7 sampai jam 4. Tahun ajaran ini, gaji guru baru pertama kali 700 ribu. Udah. Itu aja.

Dia terdiam.

‘Ah, masa sih.. Kan sekolahan ibu, lumayan lengkap fasilitasnya.

Sekolah SDIT xxx di tengah kompleks itu gaji pertama gurunya 850 ribu. Tapi jam kerjanya senin sampai sabtu. Jam 7 sampai jam 5 sore. Di yayasan xxxxxx itu yang cukup besar, juga 700 ribu gaji guru pertamanya.

Hening…

Guru swasta gak bisa cari tambahan di tempat lain, Bu. Soalnya jam kerjanya dari pagi sampai sore. Mau kapan lagi? Kecuali kalau malem dia masih kerja.

Masih hening..

’Tapi.. ibu dapet tunjangan fungsional dari pemerintah, kan?’

Saya nyengir.

Yang saya tahu, selama bertahun-tahun ngajar, gak pernah dapet, tuh… Kabarnya sih, guru swasta dapet. Entahlah… Kita mah, nomer ke berapa tau kali bu kalau pun memang ada.

’Kalau uang kesehatan 200 ribu per bulan? Itu kan lumayan, ya, Bu?’

Nah, kalau itu jelas kita gak dapet.

Dia terdiam.

Beberapa jam kemudian, kali ini Pak Stephen yang angkat bicara. Gara-garanya, saat penutupan rapat kali ini, salah satu pengawas sekali lagi mau ngejoke.

’Kita harus meningkatkan kualitas kita, Pak, Bu… Kalo dulu itu, pas masuk kelas, apa yang pertama guru katakan? Gini… Apa ada yang bayaran?’

Saya ketawa. Sebenarnya, saat pertama kali masuk kelas, itu yang pertama kali saya tanyakan. Ada yang bayaran, gak? Soalnya saya orangnya pelupa. Kalau gak langsung tanya, nanti lupa. Akhirnya itu uang bayaran terbawa lagi oleh anak ke rumah, dan sang ortu akan nelpon tanya kenapa gak dibayarin? Nanti kalau hilang gimana?

’Nah, kalo sekarang, gak ada lagi guru nanya itu.’ Lanjut Pak Pengawas.’Udah gratis sekolahnya. Tapi yang ditanya sekarang adalah… kemarin sampai dimana?’

Guru-guru tertawa. Beberapa terdiam.

’Saya lihat, hampir semuanya sama..’ suara sang pengawas sekarang meninggi. Di sekolah negeri.

’Di swasta juga sama..’ seru seorang guru PNS disambut tepukan guru PNS lain.

’Sama aja PNS swasta, mah…’ timpal guru PNS lain.

Guru-guru swasta yang notabene minoritas diam. Saling memandang.

‘Kalo guru swasta ada yang begitu langsung dipecat..’ seru Pak Stephen dengan ketus.

Hening…

Kadang, kita musti berani bersuara juga, yaa…